Friday, March 11, 2011

Baru Tapi Lama

Pacuan 4 rodaku
Taklah hebat sangat....hi..hi...

Aku baru saja memiliki 4X4 ini.  Baru sahaja membuat beberpa ubah suai agar dapat digunakan untuk aktiviti 4X4.  Dah lanjut usia ni... teringin pula nak ceburkan diri dalam aktiviti lasak ni.  Physicaly fit atau tidak, aku sendiri tak tahu lagi.  Coba dulu.....kalau tak boleh tahan, tarik diri...hi...hi...hi...!  Tak salahkan ?

Menguji kemampuan 4 X 4 ku





Selesai di kawasan kering
Boleh tahan.....!




Dah selesai semuanya
Kawasan kering sudah diredah
Anak sungai sudah diharungi 

Kini sekuang-kurangnya aku sudah mengetahui kemampuan keretaku.  Masih ada ubahsuai yang perlu dilakukan lagi.  Insya Allah....kita buat sikit-sikit. 


 

Friday, March 4, 2011

Jambatan Hidup


Jembatan merupakan salah satu hasil rekayasa infrastruktur untuk mempermudah transportasi manusia. Jembatan-jembatan dibangun di lokasi di atas sungai, lembah, atau laut yang memisahkannya. Tetapi, di suatu tempat di dunia ini, jembatan-jembatan yang menghubungkan sungai-sungai itu tidak dibangun, melainkan hidup dan tumbuh! 
1. Jembatan Akar di India

Di kedalaman India sebelah tenggara, di salah satu lokasi paling basah di muka bumi, jembatan-jembatan dibuat dengan cara yang sangat aneh dan unik.

Tumbuh dari akar-akar pohon karet, orang-orang Khasis di Cherrapunjee menggunakan batang pohon pinang, membelahnya dan mengeluarkan isinya untuk membuat apa yang disebut "penunjuk akar". Saat dibentangkan dan mencapai sisi pinggir sungai lainnya, mereka mulai menyatukannya dengan akar-akar dari tanah. Dengan berjalannya waktu, jembatan yang kokoh dan hidup mulai terbentuk.


Jembatan-jembatan akar itu beberapa di anatarnya mencapai 30 meter, membutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun untuk bisa difungsikan penuh, dan menjadikannya sangat kokoh. Beberapa sanggup menahan beban hingga 50 orang sekaligus.


Salah satu struktur yang paling unik di Cherrapunjee dikenal dengan sebutan "Umshiang Double-Decker Root Bridge." Terdiri dari dua lapis jembatan, di atas dan dibawahnya.


Karena jembatan-jembatan ini hidup dan masih terus tumbuh, membuatnya semakin kokoh saja. Beberapa jembatan akar yang tua sudah digunakan tiap hari oleh orang-orang desa di sekitar Cherrapunjee sejak lebih dari 500 tahun yang lalu.

2. Jembatan Tanaman Merambat di Lembah Iya, Jepang



Salah satu dari tiga lembah-lembah "tersembunyi", di Jepang, West Iya merupakan tempatnya ngarai berkabut, sungai bersih, dan atap-atap jerami atau daun, seperti menggambarkan Jepang berabad yang lalu. Untuk menyeberangi sungai Iya yang mengalir di sepanjang lereng lembah, para perampok, para kstria, dan pengungsi membuat sebuah jembatan khusus yang dibuat dari tanaman merambat.



Di bawah ini adalah gambar dari satu jembatan dari tanaman merambat pada tahun 1880:



Pertama, dua tanaman Wisteria - salah satu tanaman merambat paling kokoh - ditanam hingga sangat panjang dari kedua sisi sungai. Saat tanaman itu mencapai panjang yang cukup, lalu dianyam bersama papan untuk membuat suatu rekayasa botani yang hidup, lunak tapi sangat kokoh.





Jembatan-jembatan itu tidak punya sisi-sisi, dan sebuah sumber sejarah orang Jepang menunjukkan bahwa jembatan tanaman ini tidak stabil, dan yang mencoba menyeberanginya pertama kali seringkali membeku di tempat, tidak mampu melanjutkan lebih jauh lagi.

Tiga dari jembatan-jembatan itu masih ada di lembah Iya. Meski beberapa (tidak semua) jembatan-jembatan itu diperkuat dengan kabel dan lajur sisi-sisi, tetap saja menakutkan untuk diseberangi. Panjangnya lebih dari 42 meter, dengan papan yang dipasang setiap 6 hingga 8 inci, dan faktanya satu jatuh ke air dari 4,5 cerita, membuatnya tidak cocok buat pengidap acrophobia (takut ketinggian).
Beberapa orang percaya jembatan-jembatan tanaman merambat yang masih ada itu pertama kali dibuat pada abad 12, yang menjadikannya beberapa di antara contoh-contoh arsitektur hidup tertua di dunia.



Rakan Ham - Pelajar TATI

Baru-baru ini aku berkesempatan meraikan 2 rakan ham dari pusat pengajian TATI dan rakan-rakan mereka.  Agak lama juga aku tak bersua muka dengan mereka.  Itulah kali pertama aku menemui mereka, setelah mereka mendapat AA.  Tahniah buat mereka berdua.  Aku rasa, tidak terlambat buat ku untuk mengucapkan tahniah ini.

Mereka sebenarnya dalam perjalanan ke Gua Musang.  Sempat juga Comat CQ,CQ di V38.  Aku menyambut panggilannya.  Kami bertemu di sebuah restoran di Gong Badak.  Jam sudah pun menunjukkan 11.30 malam.  Bila dah bertemu mata, banyak perkara yang diperbincangkan dengan diselangi dek gurau senda.  maklum sajalah dah lama tidak bersua.

 Inilah rupa kedua-dua rakan
yang lelaki....bukan perempuan he....he !



Masa terlalu mencemburui kami, selesai sahaja makan rakan-rakan dari TATI terpaksa meneruskan perjalanan mereka.  Aku doakan semoga perjalan mereka pergi dan balik sentiasa dirahmatai Allah.

Pertemuan yang singkat ini sudah cukup bermakna buat rakan-rakan Ham.  Di raut wajah masing-masing terbayang kegembiraan dan kemesraan.  Semoga persahatan ini kan kekal hingga ke akhir hayat.

Tuesday, March 1, 2011

Hutan Lipur Cemerong


Aku sering mendengar rakan-rakan ku bercerita tentang keindahan panorama di Hutan Lipur Cemerong.  Tercuit juga di hati ku untuk melihat keindahan ciptaan Allah ini, disamping menyedut udara segar dan nyaman di persekitaran pergunungan.  Aku menerima panggilan talifon dari rakan ku, Faisal, mengajak ku bersiar-siar.  Tanpa bertanya ke mana, aku menerima ajakkannya.  Seperti biasa aku akan ditemani oleh isteri ku.  Kami bersarapan ditempat yang dijanjikan.  Faisal mengajak ku ke Hulu Dungun.  Aku meneruskan sarapan ku tanpa memberi sebarang komen.

 Kami meneruskan perjalan, setelah selesai sarapan.  Seperti biasa, kami akan berbual melaui radio yang dipasang di dalam kereta kami.  Rupanya Faisal menyatakan hendak ke Cemerong  dan kampung di persekitaran Hulu Dungun.  Hati ku melonjak riang, menerima berita tersebut.  Terbayang di kepala ku kesejukan air yang jernih di gunung tersebut.  Betapa nyamanya.

Sepanjang perjalanan, setelah keluar dari Bandaraya Kuala Terengganu, kami melalui kawasan perkampungan.  Teringin di hati ini untuk berada di kampung.  Pemandangan ini mengimbau kembali kenangan ku di masa kana-kanak.  Aku di lahir dan dibesarkan di kampung.  Kehidupan di kampung menjadi sebahagian dari hidup ku.   Perjalanan kami mengambil masa kurang lebih satu jam setengah untuk sampai ke destinasi.


Keadaan di persekitaran bagitu aman dan tenteram.  Hawa  sejuk pergunungan menjamah diri ku.  Aku dapat  merasakan betapa segarnya  udara di sini.  Suara unggas-unggas  yang mendiami kawasan ini menyambut ketibaan kami.  Suasana bagitu sunyi, hanya kedengaran siulan burung-burang dan unggas yang lain yang diiringi bunyi desiran air terjun di Cemerong ini.




Ini adalah diantara kemudahan yang disediakan untuk para pengunjung yang datang.  Disini tidak ada kemudahan penginapan, cuma yang ada, tapak untuk aktiviti perkhemahan.  Kantin yang ada hanya beroperasi pada hari minggu sahaja.  Kunjungan kami adalah pada hari biasa, jadi kami tidak dapat mencuba keenakan masakan di sini.

Ini adalah diantara tumbuhan hiasan yang ditanam.  Setelah berehat seketika, untuk melepaskan penat memandu, kami mula berjalan-jalan di persekitaran kawasan ini sambil menyedut udara yang nyaman dan menyegarkan ini.
  



Terdapat berbagi-bagai jenis tumbuhan hiasan yang ditanam di kawasan tempat letak kereta dan kantin.  Ianya amat menarik sekali.  Kawasan ini dikelilingi oleh hutan tropika yang menghijau.  Keadaan ini memukau para pengunjung yang mencintai kedamaian dan keindahan alam semula jadi.




Ini pula pemandangan sungai yang mengalir dengan tenang dan dihiasi pula oleh air terjun yang kecil dan membentuk kolam-kolam kecil yang sangat sesuai untuk mandi manda.  Airnya bagitu jernih dan sejuk.  Kelihatn anak-anak ikan berenang-renang  sambil berkejar-kejaran di celah-celah batu yang menghiasi permukaan sungai ini.  Pohon-pohon hutan yang menghijau tumbuh di sepanjang tebing sungai ini.  Ianya sunguh indah dan menarik.  Betapa besarnya nikmat anugerah Allah ini bagi insan-insan yang mahu berfikir.



Ini adalah  tempat yang dibina khas untuk para pengunjung melihat pemandangan di persekitaran jeram ini.  Kelihatan pohon-pohon kayu hutan yang terdiri dari berbagai jenis tumbuh menghijau di sekeliling pondok ini.  




Ini adalah di antara pohon-pohon hutan yang terdapat  di pergunungan ini.  Tinggi menjulang langit  dan pucuknya pula menyapa angin yang lalu.  Ini adalah di antara khazanah yang tidak ternilai untuk generasi kita.  Apakah ianya dapat dikekalkan ?  Soalan ini tak dapat ku jawab,  hanya Allah jua yang Maha Mengetahui.  Apakah atas nama pembangunan,  keindahan ini jua akan lenyap sebagaimana tempat-tempat yang lain ?   Soalan ini berligar-ligar di kepala ku.  Jawapannya tidak ku temui.  




Lihatlah betapa indah pemandangan ini.  Dibawah bumbung langit yang biru, menjulang pohon ini menyapu awan.  Berdiri tegak dengan perdunya terpasak kemas dibumi  melalui hari-hari yang mendatang.  Bagitulah jua kita manusia, hari-hari yang kita lalui ini menghapirkan kita dengan masa untuk kita kembali menemuiNya.


 Laluan berturap dengan simen disediakan untuk kemudahan para pengunjung yang ingin berehat bersama keluarga di hujung minggu.  Para pengunjung dapatlah bergerak kesana sini dengan senang, terutama untuk kanak-kanak kecil.  Walau apa pun keselamatan perlulah di utamakan kerana kawasan ini mempunyai kepala air.

Setelah puas kami berjalan-jalan di persekitaran kawasan perkelahan Cemerong ini, kami berehat untuk makan tengah hari.  Kami memilih lokasi yang berhampiran dengan tapak perkemahan, dimana terdapat sebatang tali air.  Airnya jernih dan sejuk.  Kelihatan isteri ku bagitu asyik memerhati anak-anak ikan yang berenang-renang kesana dan kemari.  Selesai menjamah makanan tengah hari yang kami bungkus semasa dalam perjalan kesini dan setelah berehat sebentar, kami meneruskan perjalanan kami ke Pasir Raja.